MEMBEDAH ASAL MULA HAM

Oleh
Hendra Surya, S.HI

HAM merupakan hak seorang manusia yang paling mendasar dan melekat padanya di manapun ia berada. Berbicara HAM sering kita dengar bahwa HAM itu berasal dari dunia Barat dan dibuat oleh mereka, atau bisa katakan bahwa HAM itu merupakan produk Barat. Perkataan-perkataan semacam ini sering kali terdengar di telinga kita, sebenarnya ungkapan-ungkapan seperti ini wajar saja kebanyakan orang-orang mengatakan demikian. Karena sekarang dapat kita lihat sendiri banyaknya literatur-literatur atau buku-buku yang membahas tentang HAM yang diproduksi oleh dunia Barat dan sampai saat ini pun jarang sekali kita jumpai buku-buku yang membahas berkenaan dengan HAM dalam perspektif Islam. Pada dasarnya HAM itu telah terlebih dahulu dikenal dalam dunia Islam, akan tetapi dalam Islam mengenai kata HAM lebih dikenal dengan kata Hak. Untuk membuktikan HAM itu berasal dalam Islam dapat kita lihat pada surat Al-Hujarat Ayat 13, dalam ayat tersebut dijelaskan yang bahwa semua manusia itu dihadapan Allah adalah sama, seperti firman-Nya beriktut ; “Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. Dalam ayat tersebut dapat dipahami bahwa, Islam memandang bahwa semua manusia mempunyai kedudukan yang sama, baik ia kaya atau miskin, salah satunya yang dapat membedakannya adalah hanyalah ketaqwaannya saja.
Bukti-bukti lain dapat kita lihat, pada zaman jahiliyah dahulu sebelum agama Islam diturunkan kepermukaan bumi ini, dimana kelakukan masyarakat jahiliyah pada saat itu sangat kejam di mana mereka telah melakukan pelanggaran HAM yang sangat luar biasa, kenapa saya katakan demikian !, karena pada masa itu setiap anak-anak perempuan yang lahir semuanya dibunuh oleh mereka pada masa itu, dengan alasan mereka yang bahwa anak perempuan itu merupakan suatu aib bagi keluarga mereka. Akan tetapi setelah turun agama Islam kebiasaan-kebiasaan yang buruk yang sering dilakukan oleh masyarakat jahiliyah di hapus oleh Islam. Islam juga merubah pola pikir masyarakat jahiliyah itu dari arah yang tidak baik kearah yang lebih baik. Bukti lain yang dapat lihat adalah dalam masalah warisan, suatu ketika isteri Sa’ad bin ar-Rabi’ datang menghadap Rasulullah saw. Dengan membawa kedua orang putrinya. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, kedua putri ini adalah anak Sa’ad bin ar-Rabi’ yang telah meninggal sebagai syuhada ketika perang Uhud. Tetapi paman kedua putri Sa’ad ini telah mengambil seluruh harta peninggalan Sa’ad, tanpa meninggalkan barang sedikit pun bagi keduanya”. Kemudian Rasulullah saw, bersabda, “Semoga Allah segera memutuskan perkara ini,” maka turunlah ayat tentang waris yaitu surat An-Nisa’ ayat 11 berikut : “Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separuh harta…”. Dari penggalan ayat tersebut jelas sakali yang bahwa Islam sangat memperhatikan hak-hak orang lain terhadap orang lain, di mana anak perempuan tidak mendapatkan harta sama sakali sebelum turunnya Islam, namun setelah Islam turun hak-hak waris untuk perempuan tetap ada. Berbicara masalah warisan sering kali kita dengar beberapa aktivis perempuan yang mengatasnamakan gerakan gender, menggugat persoalan pembagian warisan. Karena mereka menganggap ayat tersebut tidak relavan lagi dengan perkembangan zaman sekarang ini. Disini perlu kita ketahui bahwa hukum-hukum Allah itu, tidak berubah-ubah dan tidak ada seorangpun yang boleh merubah segala ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah dalam Al-Quran. Dalam Islam telah diatur sedemikian adil mengenai hak-hak antara seseorang terhadap orang lain dan Allah itu Maha Adil, Mengetahui, terhadap apa yang terjadi sebelum dan sesudahnya. Banyak bukti-bukti lain bahwa HAM itu lebih dulu di kenal dalam Islam. Menurut penulis beberapa bukti yang telah penulis sebutkan diatas sudah cukup untuk membuktikan dan membuka mata seluruh semua yang ada dunia ini, khususnya bagi kaum muslim, jangan pernah menganggap bahwa HAM itu berasal dari bangsa Barat. HAM mulai dipopulerkan oleh bangsa Barat pada tahun 1948 pada sidang umum PBB dan menyetujui Universal Hak-hak Asasi Manusia. Dari sini saja dapat kita pahami bahwa jauh sebelum adanya PBB, hak-hak manusia telah terlebih dahulu diatur dalam Islam dan dapat kita simpulkan bahwa Agama Islam-lah yang terlebih dahulu mengatur hak-hak manusia. Di sisi lain juga dapat kita pada zaman sekarang, negara yang paling sering melakukan pelanggaran HAM adalah dunia Barat, seperti contoh sering sekali para penguasa bangsa Barat malakukan intimidasi terhadap kaum muslimin di negara mereka, dimana perempuan-perempuan muslim di larang memakai jilbab, baik disekolah maupun ditempat kerja dan banyak contoh-contoh lainnya. Itulah yang terjadi keanehan pada mereka, pelanggaran HAM di negara mereka sendiri tidak nampak, tapi mereka selalu memantau pelanggaran HAM di negara lain. Intinya jika kita mengakui bahwa HAM itu lebih dulu dikenal dalam Islam, maka oleh karena itu jangan pernah mengatakan bahwa HAM itu produk bangsa Barat, karena semakin banyak kita mengatakan demikian berarti kita telah turut mengakui bahwa HAM itu berasal dari negara-negara Barat.

By suryadri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s